Belajar Bertani

5 Tips Sukses Menjadi Petani Muda Era Milenial

Muda

Kamu pernah dengar kabar kalau Indonesia sedang darurat regenerasi petani, nggak? Ini memang miris ketika semakin sedikit kaum mudanya memilih profesi petani. Padahal sektor pertanian punya andil cukup besar dalam ketahanan pangan nasional. Kabar-kabarnya juga, banyak sarjana pertanian yang kemudian tidak ingin menjadi petani muda. Jadi nggak heran, deh, kalau 61% petani kita sudah berusia di atas 45 tahun yang 15 tahun lagi memasuki usia pensiun. 

Pemerintah kita juga nggak tinggal diam, sudah ada 6 program yang dicanangkan, salah satunya program penumbuhan wirausaha muda pertanian bekerja sama dengan 16 PTN (Perguruan Tinggi Negeri) di Indonesia. Jadi sekarang buat kamu yang ingin jadi petani muda, jangan khawatir, banyak yang mendukungmu, kok! Sekarang tinggal gimana caranya kamu bisa sukses menjadi petani di era milenial ini. Nah, CROWDE punya beberapa tips, nih. Langsung saja simak di bawah ini, yuk!  

Terus berinovasi

Inovasi yang bisa kamu lakukan beragam. Bisa dalam bentuk pembibitan (menciptakan bibit unggul) hingga menciptakan teknologi yang dapat memudahkan proses produksi pertanian. Inovasi nantinya akan bermanfaat pada peningkatan hasil produksi dan membuat aktivitas pertanian menjadi lebih efektif dan efisien. Ketika inovasi bisa diterapkan pada praktik pertanian, sudah jelas akan mengurangi biaya produksi, meningkatkan hasil produksi, dan keuntungan menjadi bertambah. Pada kenyataannya, petani muda di Indonesia sudah banyak yang berupaya memanfaatkan teknologi dari hulu ke hilir. Contohnya dengan memanfaatkan smart greenhouse, beragam Internet of Things (IoT), dan menghubungkan langsung produsen dengan konsumen menggunakan teknologi.

Pintar mencari peluang

Kebiasaan yang sering dilakukan petani selama ini adalah memulai musim pertanian dengan waktu yang bersamaan sehingga ketika waktunya panen hasilnya menjadi sangat berlimpah yang berakibat pada menurunnya harga jual, keuntungan petani pun jadi berkurang. Untuk bisa menjadi petani sukses harus pintar membaca pasar dengan cepat menangkap permintaan di masa yang akan datang. Komoditas apa saja yang akan dibutuhkan konsumen beberapa waktu ke depan, sehingga tidak hanya sekedar ikut-ikutan petani lainnya. Harus berani beda dengan menanam komoditas yang tidak terlalu banyak ditanam oleh petani lain, namun tetap punya nilai jual dan dibutuhkan oleh konsumen saat itu. Dengan begitu, ketika panen komoditas tersebut tetap mendapatkan harga yang relatif lebih tinggi karena hasil produksinya tidak membludak.

Hasilkan produk berkualitas

Kualitas produk sangatlah penting. Bila kamu bisa berinovasi menciptakan bibit unggul, tentu produk yang dihasilkan jadi lebih berkualitas. Alih-alih menggunakan sistem bertani konvensional, kamu bisa menerapkan sistem pertanian organik yang hasil panennya banyak dicari belakangan ini. Selain lebih sehat serta aman bagi konsumen dan juga kamu yang memproduksinya, harga jual hasil tani organik jauh lebih tinggi meski dengan modal budidaya yang lebih murah. Jadi, lebih untung, kan? Sudah jelas, kualitas dari hasil pertanian kamu yang nantinya akan menentukan harga jual. Jadi, terus manfaatkan teknologi untuk memperluas target pasar supaya produk berkualitas yang kamu hasilkan bisa terserap maksimal. 

Bekali diri dengan pengetahuan

Ilmu pengetahuan merupakan hal dasar yang harus dikuasai saat akan memulai sebuah budidaya. Kamu bisa pelajari dulu seluk-beluk komoditas yang akan dibudidayakan sebelum memulainya. Apakah cocok ditanam di lahan yang kamu miliki, apa kondisi cuacanya mendukung, dimana bisa mendapatkan bibit berkualitas, atau ketahui jenis komoditas mana yang memiliki tingkat permintaan tinggi. Sesuaikan juga metode pertanian yang akan digunakan dengan kemampuan yang kamu miliki. Meski seiring berjalannya waktu, pengalaman berbudidaya akan semakin mempertajam kemampuan yang kamu miliki. Jadi, bisa mulai aja dulu!

Bergabung dengan GAPOKTAN

Petani di Indonesia bisa dengan mudahnya masuk dalam permainan tengkulak yang membuatnya semakin merugi. Petani hanya akan mendapat harga jual yang relatif rendah ketimbang bila menjualnya langsung ke konsumen. Gapoktan (Gabungan Kelompok Tani) adalah wadah yang tepat bagi para petani untuk bisa meningkatkan harga jual hasil panen mereka. Jika sekumpulan petani bisa menjual hasil panen mereka secara kolektif pasti jumlah yang terkumpul sangat besar. Nah, kemudian petani bisa bertindak sebagai price maker, bahkan bisa langsung menjualnya ke pasar induk/pedagang besar dengan tingkat harga yang lebih tinggi karena tidak harus melalui rantai distribusi yang panjang. Para petani bisa memotong rantai pemasaran karena telah bergabung di Gapoktan dan tidak harus menjual hasil panen mereka dulu ke pengepul/tengkulak. 

Intinya, jangan takut untuk memulai bila kamu sudah punya keinginan, terlebih gengsi. Coba saja dulu, baru dari situ kamu bisa belajar dan terus mencari formula terbaik yang cocok untuk diterapkan. Buat apa menundanya kalau bisa kamu lakukan sekarang? Atau, kamu bisa gabung bersama CROWDE yang akan mendukungmu menjadi petani muda sukses. Informasi selengkapnya ada di sini!

0 comments on “5 Tips Sukses Menjadi Petani Muda Era Milenial

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *