Inspiratif

3 Kelebihan Lahan Rawa untuk Dijadikan Lahan Pertanian

Rawa banyak ditemukan di wilayah Sumatera, Kalimantan, Sulawesi, dan Papua yang selama ini selalu dianggap tidak potensial untuk dijadikan lahan pertanian. Namun, sebuah inovasi telah ditemukan. Yaitu, berupa Biosure dan Biotara yang merupakan pupuk hayati untuk lahan rawa. Sehingga membuatnya bisa ditanami oleh beragam komoditas, salah satunya adalah padi.  Sekarang, wilayah yang diselimuti rawa pun bisa memproduksi bahan pangannya sendiri. Tanpa harus mendatangkan dari Pulau Jawa. Kali ini CROWDE ingin membahas kelebihan yang bisa didapat dengan memanfaatkan lahan rawa sebagai lahan pertanian. Yuk, simak di ulasan berikut!

Lahan rawa bisa diandalkan saat musim paceklik pangan

Konversi rawa menjadi lahan pertanian hanya bisa dilakukan pada rawa yang ditumbuhi semak belukar. Tidak berlaku pada rawa yang masih berselimutkan hutan primer, hutan sekunder, dan hutan gambut yang didalamnya terkandung beragam hayati yang wajib dilestarikan.

Dengan memanfaatkan lahan rawa ketersediaan air untuk kebutuhan budidaya dapat terjamin sepanjang tahun. Lahan rawa sendiri dapat menyumbang hasil produksi padi sebanyak 4 ton per hektar. Sehingga mampu menjadi sumber bahan pangan baru di setiap musim paceklik yang sering terjadi di Pulau Jawa pada bulan November, Desember, dan Januari.

Dapat merevitalisasi jaringan irigasi dan drainase

Ketika akan memanfaatkan rawa sebagai lahan pertanian, jaringan irigasi harus benar-benar diperhatikan. Syarat utama pada saluran irigasi di lahan rawa adalah air harus bergerak satu arah. Pengairan pada lahan rawa juga harus memiliki dua fungsi, yaitu sebagai saluran pengairan desa dan sebagai drainase untuk mengeluarkan zat asam. Pasti sudah pada tau kan? Kalau rawa mengandung tingkat keasaman tinggi. Sehingga bila lahan tidak punya aliran air yang baik, lahan akan teroksidasi dan menghasilkan asam sulfat. Akibatnya produktivitas tanaman jadi terganggu.

Dengan memanfaatkan rawa untuk dijadikan lahan pertanian, secara otomatis sekaligus akan memperbaiki saluran drainase di wilayah tersebut.

Bisa bermanfaat untuk budidaya hortikultura, itik, dan ikan

Selain untuk ditanami padi dan bisa menghasilkan beras, lahan rawa yang sudah direvitalisasi bisa dimanfaatkan untuk berbudidaya selada, beternak itik, dan juga ikan. Komoditas ini bisa memberi keuntungan jangka pendek. Tentu ditambah dengan bantuan alat mesin pertanian (alsintan) dari Kementan. Sehingga proses budidaya bisa dilakukan secara modern serta efisien, karena bisa memangkas biaya produksi.

Menurut data terbaru awal tahun 2019, tercatat sudah ada 34,1 juta ha lahan rawa di Indonesia yang sedang digarap oleh pemerintah. Dengan 9,2 juta ha diantaranya akan dimanfaatkan untuk pertanian sawah dan hortikultura.

 

Giat pemerintah untuk mencapai kedaulatan pangan sudah sangat serius. Meski lahan pertanian di Pulau Jawa mulai menyusut, mereka tidak kehabisan akal. Rawa yang menyelimuti wilayah luar Pulau Jawa pun menjadi sasaran untuk mendorong produktivitas pertanian. Tindakan ini juga bukan berarti tanpa perhitungan. Nyatanya proses revitalisasi rawa menjadi lahan pertanian, punya banyak manfaat.

Nah, kamu juga bisa ikut mendukung sektor pertanian Indonesia dengan caramu sendiri. Seperti ikut berkontribusi membantu petani melalui permodalan proyek usaha tani. Dimana kamu sebagai pemberi modal akan berlaku sebagai investor sekaligus ikut serta dalam aktivitas sosial. Pemerintah tidak harus melulu kerja sendiri kok! Kamu sebagai pihak swasta juga diharapkan partisipasinya. Caranya bagaimana? Bisa kamu temukan di sini!      

 

Referensi:

Mentari Dwi Gayati. 17 Oktober 2018. Antaranews.com: https://bit.ly/2U9vapd

Friska Yolanda. 15 Desember 2018. Republika.co.id: https://bit.ly/2AZyrjM

0 comments on “3 Kelebihan Lahan Rawa untuk Dijadikan Lahan Pertanian

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *